Berfikir dan Berkreasi

Galeri ini berisi 1 foto.

Dalam surat Al-Hajj, ayat 78 Allah SWT berfirman: ….Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…. Dalam ayat tersebut tadi telah tegas bahwa Allah SWT tidak menjadikan agama sebagai suatu kesusahan dan kesempitan. Karakter ini jelas terlihat dalam agama Islam. Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan. Karakter Islam sebagai agama yang [...]

Dunia ini bagaikan sebuah lembah yang subur yang disinggahi oleh para pengembara di tengah pengembaraannya menuju kampung halaman yang abadi. Di tempat persinggahan inilah para pengembara yang bijak mengumpulkan berbagai bekal kebaikan untuk keperluan hidupnya nanti. Sedangkan pengembara yang bodoh terlena dengan kesuburan dan keindahan tempat persinggahannya yang sementara hingga ia lupa mengumpulkan bekal. Maka jadilah ia pengembara yang miskin ketika ia tiba di kampung halamannya. Begitulah perumpamaan hidup manusia, ia dilahirkan ke bumi untuk mengumpulkan bekal amal sholeh untuk kehidupannya di akhirat nanti. Akhirat adalah kampung halaman abadi dimana setiap manusia akan kembali kepadanya setelah perjalanan hidupnya di dunia sampai pada batas akhir.
Allah SWT menurunkan manusia ke bumi dengan dibekali akal dan qolbu. Dengan akal ia menyerap segala petunjuk yang disampaikan Allah SWT melalui kitab suci dan para Nabi-Nya, hingga tertanam di dalam qolbunya keimanan. Dengan ilmu dan imanlah manusia dapat mengumpulkan bekal untuk kehidupannya di akhirat nanti.
Hadirin Jamaah Jumat yang Mulia
Ada dua hal yang perlu diperhatikan manusia dalam kehidupanya di dunia ini, Pertama; perlindungan dan pemeliharaan jiwanya, kedua; perawatan dan pemeliharaan jasmaninya. Pemeliharaan yang tepat atas jiwa yang terkandung di dalamnya akal dan qolbu, adalah dengan ilmu dan iman. Jiwa yang terus menerus di pelihara dengan ilmu dan iman akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah sehingga ia selalu rindu berjumpa dengan-Nya.
Sedangkan pemeliharaan jasmani diperlukan guna mendukung kesehatan jiwa sesuai kebutuhannya. Jasmani adalah kendaraan jiwa, yang sifatnya sementara. Sedangkan jiwa itu sendiri akan tetap abadi meski jasad telah musnah. Sebagai kendaraannya di dunia ini, jiwa harus merawat jasad agar kuat menopang perjalannya menuju negeri abadi. Tetapi bila ia terlalu sibuk dengan kendaraanya maka ia akan lupa tujuan perjalannya.
Demikianlah manusia, bila ia terlalu sibuk dengan jasmaninya, dengan memberi makanan dan perhiasan secara berlebihan bagi tubuhnya. Maka jiwannya akan terpedaya kehidupan dunia hingga ia lupa tujuan hidup yang sebenarnya. Ia sibuk dengan dunianya dan lalai akan akhiratnya.
Hadirin Jamaah Jumat yang Mulia
Kebutuhan jasmani manusia itu sebenarnya sederhana saja, hanya terdiri dari tiga hal; makanan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi nafsu-nafsu jasmaniah yang tertanam dalam diri manusia cenderung berontak menuntut hal-hal yang melebihi kebutuhannya. Karena itu diperlukan ketaqwaan kepada Allah yang dapat mengekang segala keinginan nafsu. Bila tidak, maka akan timbul kekacauan dalam kehidupannya. Telah banyak terjadi peperangan dan pertumpahan darah, karena di dorong oleh nafsu jasmani yang berlebihan.
Orang yang cerdas akan memelihara jasmaninya sesuai kebutuhannya, agar mampu menopang jiwanya dalam melakukan ketaatan kepada Allah.
Sedangkan orang yang bodoh akan disibukkan dengan jasmaninya, dengan memberinya makanan, pakaian dan tempat tinggal yang berlebihan. Ia terjerumus dalam kesalahan besar dengan beranggapan bahwa kehidupan hanyalah kehidupan jasmani di dunia ini, ia tidak berharap bertemu dengan Tuhannya. Orang-orang seperti inilah yang diacam Allah. Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Yunus, ayat 7 – 8
7. Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) Pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, 8. Merek a itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus: 7-8)

Orang-orang yang menyia-nyiakan kehidupannya di dunia tanpa amal sholeh, akan menemui akhirnya dengan penuh kekecewaan. Kekecewaannya dapat digambarkan seperti seseorang yang melewati hutan yang gelap yang di dalamnya banyak benda berkelap kelip. Semuala ia heran melihat orang-orang mengumpulkan benda-benda tersebut, dan mentertawakan orang-orang yang menasihatinya agar ikut mengumpulkan benda tersbut.
Namun ketika ia keluar dari hutan nyatalah benda-benda yang berkelap kelip itu adalah batu-batu permata yang sangat mahal harganya. Maka kecewalah orang tersebut karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah dalam jangkauannya.
Seperti itulah jadinya penyesalan orang-orang yang ketika di dunia ini tidak berusaha mengumpulkan permata-permata kebajikan dan perbendaharaan amal sholeh.
Dunia ini tempat mengumpulkan segala kebajikan dari yang kecil hingga yang besar, dari sekedar bersedekah sepotong makanan pada hewan, hingga jihad fisabilillah dengan mengorbankan harta dan jiwa. Setiap manusia dapat meraih segala kebajikan dengan ilmu, iman dan amal sholeh sebagai bekal untuk akhiratnya nanti. mau melakukannya.

Dalam kehidupan bermasyarakat manusia satu dengan yang lainnya selalu saling membutuhkan. Karena itu memberi dan menerima adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa pemberi kebaikan akan menerima kebaikan, bahkan berlipat ganda dan tambahan yang luar biasa. Memberi dalam Islam disebut dengan berbagai istilah. Yaitu zakat, infak, sedekah, dan yang lainnya. Pemberian yang dianggap dalam kategori itu pun beragam, mulai dari harta, tenaga, pemikiran, hingga memberi makan pada hewan. Semuanya adalah amal sholeh yang besar pahalanya.
Pahala secara umum diartikan sebagai balasan Allah yang akan diterima kelak di akhirat atas kebaikan yang diperbuat di dunia. Dosa sebaliknya adalah akibat buruk yang diterima di akhirat atas perbuatan buruk di dunia. Pahala dan dosa seperti sebuah “janji” yang akan disongsong kelak.
Namun sesungguhnya tak perlu menunggu waktu kiamat untuk tahu bagaimana nikmatnya pahala ataupun sakit dan tidak nyamannya siksa akibat dosa. Sekarang pun keduanya bisa dirasakan. Pahala dalam bentuk kepuasan batin, kebahagiaan, dan kenyamanan hati didapatkan dari memberi kebaikan; demikian juga dengan dosa, dia mengejawantah dalam bentuk kesumpekan, kegelisahan, ketidaknyamanan hati, pikiran, jiwa bahkan raga.
Dalam rumusan matematika, bila sesuatu dikeluarkan, maka sesuatu itu akan berkurang atau dalam istilah Arab tajaffa yang arti harfiahnya adalah mengering. Contohnya lima diambil dua, sisanya adalah tiga. Namun apakah ini berlaku untuk konsep memberi yang sesungguhnya? Memberi atau bersedekah bisa dilihat dari dua sisi, sisi agama dan psikologis. Dari sisi agama, memberi, sesungguhnya justru melipatgandakan kebaikan si pemberi.
Bahkan dalam Alquran disebutkan hitungan-hitungan angka berlipatnya kebaikan. Satu kebaikan satu akan berbalas 100 kali kebaikan atau bahkan 700 kali dan bisa lebih. Seperti pahala kebaikan memberi nafkah di jalan Allah, disebutkan dalam Alqur’an:
perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui (QS.Al-Baqarah:261)
Akan selalu ada timbal balik bagi si pemberi, di saat ia memberi di saat itu juga ia akan menerima. Orang yang memberi dengan ikhlas akan mendapatkan kepuasan batin. Kebahagiaannya melebihi dari si penerima.
Orang yang memberikan suatu kebaikan kepada orang lain, seperti harta, tenaga, pemikiran dan yang lainnya akan mendapatkan suatu kebaikan baik berupa pahala di akhirat, dan kebahagiaan atau balasan kebaikan dari orang lain di dunia.
Dalam memberi tidak mengharuskan adanya orang yang direndahkan. Orang yang memberi tidak boleh merasa lebih tinggi kedudukannya dari si penerima.
Orang kaya mungkin akan berbangga bahwa dialah yang paling mulia karena memberi dan menyantuni, tapi jangan lupa tanpa mereka yang disebutnya miskin, dia pun takkan bisa apa-apa. Bahkan tanpa mereka, siapa yang akan menyebut mereka “kaya”? Karenanya, memberi sesungguhnya adalah menerima.
Memberi kepada orang lain sesungguhnya adalah membuat diri sendiri menerima sesuatu yang sering kali jauh lebih besar dan berharga dari yang diberikan. Tak ada orang yang jatuh miskin karena memberi dan tak ada orang yang kehilangan senyum bahagia karena memberi senyuman kepada sesama.
Adanya sebagian orang enggan untuk memberi atau bersedekah dikarenakan sempitnya pemikiran dan prasangka buruk terhadap Allah. Memberi dalam pikiran meraka adalah mengurangi harta karena diberikan dan berprasangka bahwa Allah tidak akan memberinya lagi rizki. Pikiran dan prasangka seperti itu harus dijaukan sejauh-jauhnya dari orang-orang beriman.
Orang-orang beriman harus berkeyakinan akan janji-janji Allah yang akan memberikan pahala yang berlipat ganda terhadap orang-orang murah hati yang mudah memberi kebaikan, baik berupa harta, tenaga, pemikiran dan sebagainya. Karena itu hadirin jamaah jumat dan kaum muslimin yang dirahmati Allah Marilah kita bederma dengan apa saja yang kita punya di jalan Allah, untuk manusia dan agama.

Sumber: DR. Komaruddin Hidayat

Dunia kita adalah dunia perubahan dan pergantian, tak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan senantiasa berubah, memudar, dan setelah itu mati. Namun tidak demikian halnya agama. Ia akan terus hidup selama manusia masih menghuni bumi ini. Karena ia merupakan kebutuhan utama manusia. Manusia tidak akan bisa menjalani kehidupan yang baik tanpa memiliki keyakinan keagamaan.
Manusia yang tak memiliki keyakinan keagamaan akan sepenuhnya menjadi manusia hampa tanpa tujuan. Ia akan mudah goyah dan terombang ambing batinnya karena tak memiliki sandaran yang kuat. Hidup tanpa agama adalah sebuah kesempitan dan siksaan tanpa akhir. Manusia yang tak memiliki keyakinan keagamaan bukan karena tak mengenal agama, tetapi ia sengaja berpaling dari agama. Dalam Al-Qur’an Surat Thoha, ayat 124, memperingatkan.

124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(QS:20:124)

Secara fitrah manusia sangat membutuhkan agama, walaupun sebagian diantara mereka berupaya menutupinya dengan berbagai cara. tetapi fitrahnya sebagai manusia tidak akan bisa tertutupi. Fitrah manusia sebagai hamba Allah telah tertanam dalam dirinya jauh sebelum ia dilahirkan.
Fitrah sebagai hamba Allah ini akan terus tertanam dalam hati manusia sepanjang hidupnya dan terus di bawa hingga ke alam akhirat. Fitrah itu tidak mati ketika manusia mati. Bahkan akan semakin jelas terbuka ketika ia meninggalkan dunia yang selama ini menutupi. Ketika seorang manusia meninggal tirai penghalang yang menutupi fitrahnya akan tersingkap, pada saat itulah ia akan mencapai pada puncak kesadaran yang tertinggi tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya, dan kewajiban-kewajiban yang mesti ia lakukan terhadap penciptanya. Ketika itulah manusia-manusia yang inkar terhadap terhadap Allah akan sangat menyesal. Dan bergembira orang-orang yang taat kepada-Nya.
Jadi di setiap diri manusia telah tertanam fitrah, penghambaan pada Allah, namun karena kelemahannya ia mudah tergelincir kepada memperturutkan hawa nafsu, hingga fitrahnya tertutupi.
Maka menjadi tugas manusia selama hidupnya untuk tetap menjaga fitrahnya dengan tunduk patuh kepada Tuhan-Nya. Untuk itulah manusia harus kembali kepada agama Allah, agama yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, {Ar-Rum (30): 30}

Disinilah makna manusia taqwa, yaitu manusia yang terus berupaya menjaga fitrah kemanusiaannya sebagai hamba Allah. Ia akan terus menjalankan kewajiban-kewajibanya sebagai hamba Allah dengan ikhlas karena-Nya. Manusia taqwa bukan berarti manusia yang terus menerus dalam keadaan suci dari dosa, manusia taqwa adalah manusia yang ketika ia berbuat dosa ia segera kembali kepada Allah untuk memohon ampunan-Nya. Itulah yang diserukan Allah kepada manusia.

54. dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Itulah kemurahan Allah yang selalu membuka lebar pintu rahmat-Nya bagi siapa yang kembali kepada-Nya dengan tulus. Sejauh manapun manusia menyimpang dari fitrahnya, bila ia segera bertobat dan kembali pada Allah, dengan hati yang tulus, Allah pasti akan mengampuni dan menyambutnya dengan penuh kehormatan.

Keyakinan kepada agama yang benar akan menyebabkan pengaruh-pengaruh yang luar biasa, ia mampu menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan dan mampu memperbaiki hubungan sesama manusia, mengurangi bahkan menghapuskan segala penderitaan yang dihadapi manusia. Agama memberikan harapan yang baik bagi manusia ditengah-tengah kesulitannya. Memberikan sikap oftimis ditengah-tengah keputus asaannya. Dengan agama orang miskin bisa bahagia menghadapi masa depannya, Dengan agama orang kaya tidak menjadi egois dan sombong, dan tidak menjadi kikir akan hartnya. Melainkan menjadi orang yang pemurah bagi sesamanya. Dengan agama orang-orang kuat tidak menzalimi yang lemah.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.