Dunia kita adalah dunia perubahan dan pergantian, tak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan senantiasa berubah, memudar, dan setelah itu mati. Namun tidak demikian halnya agama. Ia akan terus hidup selama manusia masih menghuni bumi ini. Karena ia merupakan kebutuhan utama manusia. Manusia tidak akan bisa menjalani kehidupan yang baik tanpa memiliki keyakinan keagamaan.
Manusia yang tak memiliki keyakinan keagamaan akan sepenuhnya menjadi manusia hampa tanpa tujuan. Ia akan mudah goyah dan terombang ambing batinnya karena tak memiliki sandaran yang kuat. Hidup tanpa agama adalah sebuah kesempitan dan siksaan tanpa akhir. Manusia yang tak memiliki keyakinan keagamaan bukan karena tak mengenal agama, tetapi ia sengaja berpaling dari agama. Dalam Al-Qur’an Surat Thoha, ayat 124, memperingatkan.
124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”.(QS:20:124)
Secara fitrah manusia sangat membutuhkan agama, walaupun sebagian diantara mereka berupaya menutupinya dengan berbagai cara. tetapi fitrahnya sebagai manusia tidak akan bisa tertutupi. Fitrah manusia sebagai hamba Allah telah tertanam dalam dirinya jauh sebelum ia dilahirkan.
Fitrah sebagai hamba Allah ini akan terus tertanam dalam hati manusia sepanjang hidupnya dan terus di bawa hingga ke alam akhirat. Fitrah itu tidak mati ketika manusia mati. Bahkan akan semakin jelas terbuka ketika ia meninggalkan dunia yang selama ini menutupi. Ketika seorang manusia meninggal tirai penghalang yang menutupi fitrahnya akan tersingkap, pada saat itulah ia akan mencapai pada puncak kesadaran yang tertinggi tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya, dan kewajiban-kewajiban yang mesti ia lakukan terhadap penciptanya. Ketika itulah manusia-manusia yang inkar terhadap terhadap Allah akan sangat menyesal. Dan bergembira orang-orang yang taat kepada-Nya.
Jadi di setiap diri manusia telah tertanam fitrah, penghambaan pada Allah, namun karena kelemahannya ia mudah tergelincir kepada memperturutkan hawa nafsu, hingga fitrahnya tertutupi.
Maka menjadi tugas manusia selama hidupnya untuk tetap menjaga fitrahnya dengan tunduk patuh kepada Tuhan-Nya. Untuk itulah manusia harus kembali kepada agama Allah, agama yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, {Ar-Rum (30): 30}
Disinilah makna manusia taqwa, yaitu manusia yang terus berupaya menjaga fitrah kemanusiaannya sebagai hamba Allah. Ia akan terus menjalankan kewajiban-kewajibanya sebagai hamba Allah dengan ikhlas karena-Nya. Manusia taqwa bukan berarti manusia yang terus menerus dalam keadaan suci dari dosa, manusia taqwa adalah manusia yang ketika ia berbuat dosa ia segera kembali kepada Allah untuk memohon ampunan-Nya. Itulah yang diserukan Allah kepada manusia.
54. dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
Itulah kemurahan Allah yang selalu membuka lebar pintu rahmat-Nya bagi siapa yang kembali kepada-Nya dengan tulus. Sejauh manapun manusia menyimpang dari fitrahnya, bila ia segera bertobat dan kembali pada Allah, dengan hati yang tulus, Allah pasti akan mengampuni dan menyambutnya dengan penuh kehormatan.
Keyakinan kepada agama yang benar akan menyebabkan pengaruh-pengaruh yang luar biasa, ia mampu menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan dan mampu memperbaiki hubungan sesama manusia, mengurangi bahkan menghapuskan segala penderitaan yang dihadapi manusia. Agama memberikan harapan yang baik bagi manusia ditengah-tengah kesulitannya. Memberikan sikap oftimis ditengah-tengah keputus asaannya. Dengan agama orang miskin bisa bahagia menghadapi masa depannya, Dengan agama orang kaya tidak menjadi egois dan sombong, dan tidak menjadi kikir akan hartnya. Melainkan menjadi orang yang pemurah bagi sesamanya. Dengan agama orang-orang kuat tidak menzalimi yang lemah.